Selasa, 10 November 2009

Contoh Opini


Gelisah Tayangan Sinetron*
Oleh Karkono Supadi Putra**


Persoalan terkait tayangan yang ada di televisi bukanlah hal baru. Mulai sajian acara yang kurang mendidik sampai persoalan jam tayang yang kurang tepat hingga kini tetap dirasakan oleh masyarakat. Namun, dari waktu ke waktu belumlah ada solusi yang menunjukkan ke arah perbaikan. Beberapa keluarga ada yang memilih meniadakan televisi di rumah untuk ‘mengamankan’ keluarga dari tayangan-tayangan yang dianggap kurang mendidik, ada yang mengatur jadwal-hanya jam-jam tertentu saja dinyalakan-dan ada yang pada akhirnya memilih masa bodoh.
Jika taat pada peraturan, memang seharusnya semua tayangan yang hadir di televisi melewati badan sensor. Namun, kita sendiri tahu, ada berapa banyak stasiun televisi di Indonesia dan semuanya tayang hampir 24 jam dalam sehari semalam. Kita dapat membayangkan, kapan waktu untuk menyensor semua tayangan itu? Kondisi ini pada akhirnya memungkinkan banyak tayangan-tayangan yang tidak disensor terlebih dahulu sebelum ditayangkan. Sensor langsung dari masyarakatlah yang seharusnya bisa mengontrol kualitas tayangan-tayangan tersebut.
Beberapa waktu lalu, tayangan Empat Mata yang diputar di Trans 7 diberhentikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Tayangan yang digawangai oleh Tukhul Arwana tersebut dianggap melanggar etika ketika dalam salah satu episodenya menghadirkan bintang tamu Sumanto yang makan katak hidup-hidup. Dalam beberapa waktu tayangan tersebut memang benar-benar berhenti, tetapi tayangan tersebut kini kembali hadir meski dengan label acara yang sedikit berbeda yaitu Bukan Empat Mata. Jika kita cermati, konsep acara tersebut tidak banyak megalami perubahan dari acara Empat Mata sebelumnya. Kasus ini menandakan bahwa sebenarnya ada lembaga yang berwenang secara hukum untuk mengontrol sebuah acara di televisi selain badan sensor. Oleh sebab itu, ketika kita merasa gelisah dengan tayangan yang ada di televisi, kita bisa saja membuat aduan ke KPI.
Beberapa tayangan di televisi yang sering menggelisahkan masyarakat adalah tayangan sinetron di beberapa stasiun televisi. Salah satu tayangan sinetron tersebut adalah sinetron Muslimah yang tayang setiap hari di Indosiar. Di beberapa milis di internet, sinetron Muslimah sudah menjadi perbincangan hangat masyarakat seputar banyaknya adegan yang dianggap kurang mendidik. Selain bertebaran kata-kata kotor, tindakan-tindakan yang semaunya (misalnya main pukul dan tampar) selalu saja mewarnai setiap adegannya. Banyak ibu-ibu yang resah karena sinetron ini diputar di sore hari, pukul 18.00 sampai pukul 19.00, sehingga anak-anak masih banyak yang menontonnya. Secara umum memang acara ini untuk segala umur, akan tetapi jika banyak kata-kata kotor dan tindakan kasar, bukan tidak mungkin ini menjadi kekhawatiran bagi orang tua jika sampai anak-anaknya terkena dampak negatifnya.
Sinetron ini mulai tayang sejak tanggal 1 September 2008, tepat saat memasuki bulan Ramadhan. Selain dapat dilihat dari judulnya, momen mulai tayang saat bulan Ramadhan menandakan bahwa sinetron ini berlabel religi Islam. Hal ini pula yang sering diperbincangkan. Barangkali jika mempersoalkan esensi sinetron religi tetapi jauh dari nilai religi tidak semua orang sepakat. Ada hal lain yang layak dipersoalkan pada sinetron Muslimah dari beragam kaca mata pemikiran dan latar belakang pemirsanya, yaitu dari sisi kelogisan cerita. Orang awam pun akan dengan mudah mengatakan bahwa banyak hal di sinetron ini yang tidak logis. Ya, ketidaklogisan jalinan cerita dan kekurangkonsistenan karakter tokoh-tokohnya adalah masalah utama dalam sinetron ini. Demi mengulur waktu-bahkan hingga kini sudah mencapai 140-an episode-banyak konflik cerita dan dialog yang diulang-ulang.
Kita bisa saja mengatakan jika tidak suka ya tidak perlu ditonton. Namun, apakah hal tersebut menyelesaikan persoalan? Apakah kita sudah memikirkan bagaimana seandainya banyak sisi negatif yang diterima masyarakat akibat menyaksikan tayangan tersebut tetapi mereka tidak menyadarinya? Kondisi real yang terjadi di masyarakat yang menyaksikan tayangan tersebut adalah mereka pada dasarnya gemas dan keberatan dengan tayangan tersebut, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya pasrah saja.
Lalu bagaimana langkah konkret yang bisa diambil?
Sinetron Muslimah tentu tidak hanya berisi hal-hal negatif seperti yang digelisahkan banyak orang (saya tahu hal ini dari para blogger), ada juga sisi-sisi positif yang hendak disampaikan oleh para pembuatnya. Kita tidak bisa secara frontal menyalahkan atau bahkan meminta untuk diberhentikan. Hal-hal mendasar yang memang disa diubah/diperbaiki memang seharusnya diperbaiki. Jangan pula bagi para pembuatnya dengan dalih memotret realita yang ada di masyarakat lalu seenaknya saja membuat sebuah sinetron tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan.
Dalam pemikiran saya, sinetron Muslimah cukup berhasil memikat banyak orang karena bisa membuat orang penasaran menunggu bagaimana kelanjutan ceritanya. Misalnya kapan saatnya Muslimah (tokoh utama dalam sinetron tersebut) akan merasakan kebahagiaan dan lepas dari penderitaan akibat ulah orang-orang yang tidak menyukaianya. Moment yang dinantikan ini seperti diulur-ulur supaya menjadi cerita panjang. Dengan kelebihan yang dimiliki sinetron ini, bukan berarti harus menghilangkan unsur kelogisan cerita. Justru, tantangan tersendiri bagi penulis ceritanya bagaimana tetap membuat cerita tetap memikat tanpa mengesampingkan unsur kelogisan cerita dan mengurangi tindak kekerasan para tokoh-tokohnya.
Sebagai penonton, ada hal yang bisa kita lakukan untuk mengkritisi tayangan sinetron ini. Kita bisa membuat aduan melalui KPI yaitu dengan menulis aduan kita di form aduan yang ada di website KPI. Sampaikan saja apa yang menjadi keberatan kita, karena kita mempunyai hak untuk melakukan hal itu. Jika KPI pernah memberhentikan acara Empat Mata, tentu bukan perkara sulit untuk mengontrol tayangan sinetron Muslimah dan sejenisnya. Hal ini tetu lebih bijak kita lakukan dari pada sekadar mencemooh di sana-sini tetapi bukan pada kran yang tepat. Atau sekadar pasrah dengan hati jengkel karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, bagi masyarakat yang berdomisili di Malang Raya yang sekarang tidak banyak pilihan untuk menyaksikan tayangan televisi, prosentase yang menyaksikan sinetron Muslimah barangkali lebih banyak dibanding di daerah lain yang memiliki banyak alternatif.


*Dimuat di koran Surya, edisi 23 Januari 2009
**Dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar